REPOST “Day 1 (pembukaan)’

20-11-2013

Serba Cepat, Serba Singkat!!

Assalamualaikum kawan, mau sedikit menuliskan apa yang telah saya dapat selama ini di perjalanan saya menuju Okinawa, Japan. Mohon maaf kalau nanti tulisan ini tidak sebagus karyanya Andrea Hirata dalam menggambarkan perjalanan hidupnya, atau tidak seindah karya tere liye dalam novel-novel bernuansa romancenya. Saya hanya berusaha agar apa yang ada diingatan saya ini bisa saya bagikan kepada kalian semua yang sedang berusaha untuk go abroad dan mewujudkan cita-cita kalian. Semoga beruntung dan selamat membaca curhatan saya ya.

Ya, saya ingat sekali waktu itu saya mendapat kesempatan untuk pergi ke Okinawa, tapi sampai tanggal 19 Nopember 2013, uang yang saya pegang hanya 2.5 juta rupiah. Saat itu saya sudah memeriksa harga tiket termurah via travel, karena memang ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri. Pikiran sudah kalang kabut, pala rasanya sudah semrawut dan kadang otak dan perbuatan tidak tidaklah berurut. Semua karena stres yang ditimbulkan dari kepusingan ini. Namun satu yang saya selalu ingat dan saya tanamkan dalam hati saya, “Anda tidak pernah tahu apa yang ada setelah usaha terakhir anda tersebut, kalau anda sudah menyerah sebelum mendapatkan hasil akan sangat sayang usaha yang telah anda lakukan selama ini, jadi teruslah berusaha dan jangan kalah sebelum perang”. Kata-kata ini yang membuat saya terus berusaha untuk tetap berangkat ke Okinawa. Saya mengerti dalam agama saya Allah berfirman bahwa “ Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya”. Bermodalkan hanya keridhaan Allah dan doa orang tua, maka saya tetap lanjutkan perjuangan ini.

Alhamdulillah, saya mendapat dukungan moril dan materiil dari Himpunan dimana saya berada. Ya, HIMATEKPAL namanya. Ketua Hima tersebut, sangat ingin memberangkatkan saya ke Jepang. Karena memang kita butuh seorang figur yang bisa memberi motivasi kepada teman-teman lain untuk ikut tetap berkarya dan berusaha memberikan yang terbaik untuk negeri ini. ini cukup berarti bagi saya. Pada akhirnya, entah ini pertolongan Allah dari mana asalnya, aku dipinjamkan dahulu dana untuk membeli tiket. Perhitungan awal seperti ini, kalau sudah dapat tiket dan visa, saya akan bisa mencairkan dana dari Jurusana sebesar 2.5 juta, sangat membantu bukan? Dan sekarang sudah hari terakhir alias penentuan, entah saya akan berangkat atau tidak. Dengan membaca bismillahirrahmanirrahim saya beranikan diri untuk mengambil pinjaman itu.

Ya, saya bukan berasal dari keluarga yang mampu, jangankan untuk bermimpi ke luar negeri. Dahulu mimpi untuk kuliahpun rasanya bagaikan menggapai bintang menggunakan accomodation ladder yang ada di kapal (efek belajar Ship Outshifting). Maka itu, saya hanya bisa berpasrah diri kepada Allah, barangkalii nanti saya bisa mendapat dana dari lain sumber untuk menutupi kekurangan dari pinjama ini. dan pada akhirnya di jam 14.50 WIB saya sudah bisa mendapatkan tiket untuk pulang pergi Jakarta-Okinawa. Subhanallah.

Satu pertimbangan terakhir, sebelum jam 16.00 WIB, saya harus berada di Jurusan saya, pastinya untuk mencairkan dana dari jurusan. Lumayan untuk uang sangu selama diperjalanan. Perjalanan dari Jalan Arjuno sampai ke sukolilo seakan terasa sangat lama sekali, ditambah hujan yang turun membasahi bumi pertiwi, membuat suasana tegang dan takut akan kepulangan sang bapak Ketua Jurusan (KaJur). Jelas saya takut, saya sudah janji dari pagi untuk mencairkan dana ini, tapi karena baru bisa dapet tiketnya pukul 14.50 maka saya harus mencairkan nya disaat sore. Dan saya memang terlihat kurang ajar membuat seorang Prof I K A Pria Utama menunggu (maafkan saya Pak). Sesampainya di jurusan, saya langsung menghadap ke Pak KaJur. Benar sekali, terlambat semenit saja mungkin pak Kajur sudah tidak mau untuk mencairkan dana ini untuk saya, dan itu berarti saya gak punya uang apapun untuk sangu ke Jepang. Alhasil, amarah sempat keluar dari mulut Pak Kajur ini. ya, saya memang pantas mendapat amarah ini karena saya telah lancang membuat seorang professor menunggu dari pagi sampai sore. Astagfirullah.

Tetapi saya masih mendapat pertolongan Allah, uangnya pun masih dapat dicairkan dan alhamdulillah minimal saya punya uang pegangan untuk sangu ke Jepang. Saya pun menghadap ke Kahima, untuk menunjukan kalau saya sudah membeli tiket dan itu berarti saya harus segera pulang ke Jakarta. Pasalnya, pesawat yang saya dapatkan itu jadwal berangkatnya dari Jakarta dan sore hari ini saya masih ada di Surabaya. Mau naik apa ke Jakarta? Akhirnya jalan satu-satunya setelah berdiskusi dengan travel nya. Saya memutuskan untuk naik Kereta, dan kereta itu eksekutif argo bromo. Mahal banget buat kantong mahasiswa. Tapi dari pada saya gak jadi berangkat gara-gara telat, itu kan gak lucu.

Sampai di stasiun Pasar turi pukul 19.00 WIB, dan keretanya akan berangkat pukul 20.15 WIB sedangkan saya masih juga belum mendapatkan tiket dan saya tidak tahu apakah tiket itu masih ada atau sudah habis. Rencananya, kalau memang kehabisan tiket hari itu, besok pagi saya akan pagi-pagi naik pesawat. Meskipun itu plan yang gak mungkin sekali. Ketika saya coba ke reservasi tiket, Alhamdulillah masih tersisa cukup banyak untuk tiket ke Jakartanya. Alhamdulillah, lega rasanya.

Akhirnya saya pulang ke Jakarta, dengan keadaan belum packing apa-apa untuk besok flight. Semua memang terasa begitu cepat, dan begitu singkat. Sampai-sampai saya tidak sempat meminta izin untuk pulang ke Jakarta sekalian meminta doa restu dari teman-teman saya terkait keberangkatan yang singkat ini. setelah kereta berjalan, saya dapat kabar dari travel, kalau pesawat saya kan transit di Taipei, dan itu berarti saya harus membuat visa online dan dengan sayarat juga saya harus punya alamat tempat tinggal untuk disana. Gak mungkin kan saya mau nyari hotel disana, ini semua karena limited fund saya. Panik dan bingung menghampiri, namun lagi-lagi Allah memberikan uluran pertolongannya, entah kenapa ada seorang mahasiswi ITS yang sedang kuliah S-2 disana. Saya mencoba menghubungi beliau, dan beliau mau alamat rumahnya dijadikan “alamat palsu” untuk buat visa online di Taiwan.

 06.30 WIB, Sampai di Jakarta. Ini berarti saya punya waktu hanya kurang dari satu setengah jam untuk packing dan persiapan segalanya. Sedangkan saya masih belum mendapatkan kabar jelas tentang visa onlinenya. Alhamdulillah, saya punya ibu yang sangat baik hati. Beliau sangat mendukung saya dalam keberangkatan ini, dan saya yakin keberhasilan saya sampai saat itu, tidak pernah lepas dari doa beliau. Ibu, kau memang bidadari terindah yang Allah berikan kepada ku. 08.10 WIB, sudah lewat batas keberangkatan, saya harus berangkat sekarang. Karena kalau sesuai perhitungan, saya harus ada di bandara pukul 11.00 WIB, dan kondisi kemacetan di Jakarta, tidak ada yang bisa memungkiri lagi. Dengan keadaan belum terprint nya visa online dan juga belum tertukarnya uang (masih dalam rupiah) membuat saya sedikit ‘menggila’.

Wallahualam, entah kenapa Ibu selalu bisa menenangkan hati saya, dan saya pun berpikiran untuk numpang print di office maskapai yang saya naiki. Alhamdulillah setibanya di bandara, saya langsung menukar semua uang rupiah saya ke US$. Keadaan rupiah yang melemah terhadap dollar membuat saya agak shock ketika menukar uang dan mendapatkan hanya sedikit ini. tapi apa boleh buat. Dan setelah itu, saya coba untuk ke Office maskapai yang saya tumpangi, dan Alhamdulilllah lagi saya bisa print visa online tersebut. Memang pertolongan Allah sangat dekat dengan hambanya. Dan saya merasakan, kalau yang mengerjakan ini hanya saya pribadi, saya jamin saya gak akan pernah sanggup. Setelah semuanya selesai, tibalah saatnya saya menunggu untuk giliran pesawat saya.

Saya kebagian flight jam 14.40 WIB. Sekarang masih pukul 11.30 WIB. Masih cukup waktu untuk bercengkrama dengan ibu dahulu, sekalian minta restu beliau, karena ini memang ekstrim. Semua serba cepat semua serba singkat dan aku tidak mau. Gara-gara ke-cepat-an ini saya malah susah di negeri orang. Ya, saya berangkat sendiri ke Jepang. Di pengalaman pertama saya ini, saya tidak ditemani sama sekali oleh orang yang sudah berpengalaman, saya hanya mengakui modal saya hanya 2 hal. Ridho ALLAH dan doa Orang tua saya.

 

 

2 thoughts on “REPOST “Day 1 (pembukaan)’”

  1. nduuuu…. saran boleh ? aku dan saya mungkin memiliki maksud yang sama. akan tetapi, dalam hal tulis menulis, saya dan aku itu berbeda… saya dan aku (dalam buku yang pernah ku baca), menggambarkan secara tidak langsung sebenarnya seperti apa pribad seorang penulis… yah, intinya butuh ke-konssisten-an dalam penggunaan kata ganti saya atau aku… yupz… nice blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s