Tugas ETOS (Press Release)

Assalamualaikum, 
kali ini saya harus nge-share tugas saya nih. bukan Kalkulus sih apalagi fisdas. cuma mau share aja tentang Press Release yang saya buat. harapannya nanti bisa muncul di http://www.beastudiindonesia.net amiin amiin.

Image

Check it out

      Press Release
Perjalanan di Okinawa

Jakarta,  20 Nopember 2013. Alhamdulillah saya diberi kesempatan Allah untuk bisa merasakan indahnya negeri sakura secara langsung. Ya, dalam kesempatan kali itu, saya mengikuti International Scientific Conference on Engineering and Applied Sciences (ISCEAS) yang diadakan oleh sebuah lembaga international yakni Higher Education Forum di Okinawa, Japan. Perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Saya terbang harus transit dahulu di taipei. Perjalanannya cukup memakan waktu cukup lama. Berangkat dari Jakarta pada pukul 14.40 WIB dan sampai di Taipei pada jam 20.55 WIB alias 21.55 waktu setempat.

Malam itu, saya harus menginap di Bandara, karena saya hanya transit disana sedangkan pesawat nya besok akan terbang cukup pagi yakni jam 09.00 waktu setempat. Pukul 11.00 waktu Jepang. Saya sudah tiba di Okinawa. Okinawa merupakan kepulauan di Jepang, Pulau ini letaknya lebih dekat dengan Taiwan, makanya penggunaan bahasa nya pun agak berbeda dengan bahasa jepang pada umumnya dan kebanyakan orang berkata bahasa di okinawa lebih mirip dengan bahasa di Taiwan. Jarak penginapan saya dengan bandara Naha International Airport yang merupakan bandara di Okinawa, sekitar 20 menit menggunakan monorail. Tapi alhamdulillah, saya tidak perlu menaiki monorail disaat pertama mencari alamat penginapan, karena Allah menunjukan bahwa pertolongan nya memang sangat dekat kepada hambanya yang meminta pada-Nya. Ya, saya bertemu dengan orang Indonesia yang sedang kuliah disana, dan alhamdulillah saya diantar oleh beliau.

Setelah check in di penginapan, sore itu juga saya bergegas menuju tempat konferensi. Sekedar untuk mencari tahu tempat berlangsungnya acara. Namun ketika saya bertanya kepada bapak pemilik penginapan tersebut, ia mengatakan bahwa Fuchaku, nama tempat dari konferensi ini berjarak 2 jam dari penginapan saya, dan itu cukup membuat saya tersentak kaget. Namun, saya tetap mencoba untuk pergi kesana. Dan setelah naik bus yang harus saya bayar dengan harga ¥ 1120 atau setara dengan + Rp. 150.000 untuk sekali naik bus kota.

Keesokan hari nya adalah jadwal saya untuk presentasi, dan alhamdulillah saya datang in time. Sore itu saya mempresentasikan paper saya yang berjudul “Utilisation Vortices As A Renewable Energy Resource” sebuah tema yang mengangkat tentang energi terbarukan dari gelombang laut, yang cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Namun, dalam hal ini di sekitar perairan Jawa alat ini kurang begitu cocok disebabkan arus nya yang begitu keras.

Tak hanya sekedar mengikuti konferensi, acara ini membuat saya memiliki koneksi dengan teman-teman dari seluruh pelosok negara. Mulai dari Taiwan, Srilanka, India, Korea, Amerika bahkan Arab Saudi turut menambah relasi pertemanan saya. Tidak kalah dengan teman dari luar negeri, yang membuat saya bangga adalah terdapat 8 orang Indonesia lainnya selain saya. Mereka kebanyakan mahasiswa, meskipun kebanyakan sudah ada yang semester 5,7 bahkan ada yang sudah menjadi dosen. Namun, konferensi ini benar-benar membuat pikiran saya terbuka,”dunia ini tidak selebar daun kelor”. Dan itupula yang saya dapat dari mengikuti acara ISCEAS ini. pengalaman yang takkan pernah terlupakan.

Selesai mengikuti konferensi, saya kebagian mengunjungi beberapa situ sejarah yang ada di Okinawa, salah satunya adalah daerah Shuri. Disana ada banyak macam situs sejarah. Namun yang terkenal adalah Shuri Castle. Castle peninggalan raja okinawa pada zaman dahulu. Okinawa adalah sebuah kerajaan, namun seiring berjalannya waktu kerajaan ini mulai runtuh hingga saat ini yang ada hanya peninggalan nya saja, berupa castle yang masih sangat bagus dan terjaga kondisinya. Di castle ini kita bisa melihat beragam peninggalan sang raja, mulai dari rumah tradisional dengan pemasak teh di ruang tamunya. Kita juga bisa melihat mahkota raja yang terbuat dari campuran emas dan perhiasan-perhiasan lainnya. Castle ini sangat terawat, bahkan sampai seserius ini mereka menjaga situs peninggalan budayanya, ini pula yang harus kita lakukan. Karena kita memiliki lebih banyak situs budaya dibanding Jepang, sekarang saatnya bagi kita untuk berbakti pada ibu pertiwi.

Shuri menyajikan pemandangan yang indah bagi mereka yang merasakan udaa disana secara lansung. Panas matahari yang terik tapi tidak sedikitpun saya kegerahan karena memakai hoody. Dari sana kita bisa melihat penuh daerah Okinawa. Disana terdapat sudut pandang dimana kita bisa melihat tata letak Pulau Okinawa. Pulau ini memang tidak sebesar pulau jakarta. Namun, kebersihan disini tidak diragukan lagi. Ketaatan warganya akan peraturan sangat patut diacungi jempol serta ketertibannya membuat hati ini semakin miris jika membandingkan dengan negeri sendiri.

Okinawa adalah kota sekaligus pulau yang berhasil menggugah pemikiran saya.Dari sini saya dapat banyak pelajaran, mulai dari ketertiban akan lampu merah, padahal sepele sekali, namun hampir saja saya terbiasa hodup di kota asal saya yaitu Jakarta. Di Jakarta, lampu merah asalkan sepi bukan alasan untuk menunggu, bahkan ironinya lagi kalau memanf keadaan sepi, jika kita ingin belajar patuh untuk berhenti disaat lampu merah sedang menyala, pengendara lain malah sibuk mengelaksoni kita yang mencoba patuh akan peraturan tersebut. Apa jadinya jika suatu saat nanti saya diminta salah satu teman dari ISCEAS untuk menjadi tour guide di Indonesia.

Itu hanyalah permasalahan kecil yang menunjukan kedewasaan mental dan pikiran yang ditunjukkan oleh mereka (warga Jepang). Sati hal lagi yang membuat saya makin miris dengan keadaan kita, yakni sikap warga sipil di Okinawa. Ketika saya kebingungan harus naik bus apa, harus mencari alamat dimana, dan harus kemana, saya tidak perlu takut jika itu adalah Okinawa. Saya yang sendiri berpetualang ke Okinawa, jujur tidak tahu menahu tentang bahasa jepang sama sekali. Saya juga tidak punya persiapan untuk membawa peta dari Okinawa ataupun sejenisnya. Namun, saya sangat senang berada disini, semua warga sipilnya sangat totalitas dalam membantu menolong. Kenapa saya bisa bicara seperti ini. ya, karena saya sudah mengalami hal tersebut. Pertama kali saya menanyakan alamat penginapan saya. Saya yang terbatas dalam menggunakan bahasa jepang, hanya bisa menggunakan bahasa Inggris. Saya menanyakan yang mana yang merupakan alamat penginapan saya. Karena kebanyakan dari tulisan plang namanya menggunakan huruf kanji. Salah seorang wanita membantu saya menunjukan penginapan saya. Padahal ia baru ingin berangkat kerja, tapi karena ia saya tanya alamat penginapan saya, ia rela membantu saya bahkan sampai di depan penginapan saya. Dan masih banyak kisah lainnya yang saya dapatkan terkait ketulusan dan ketotalitasan mereka dalam membantu orang.

            Padahal mereka tidak diajarkan dalam agama mereka untuk tulus dan meolong sampai selesai, berbeda dengan kita yang beragama islam. Bukankah kita jelas diperintahkan untuk saling menolong dan mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Tapi coba saja, misal ada orang atau turis asing yang sedang bertanya kepada kita dengan menggunakan bahasa inggris, karena kita tidak bisa bahasa inggris, kalian pasti tahu apa yang akan kita dilakukan. Ya, pilihannya ada dua, bilang saya tidak mengerti dan meninggalkan atau langsung meninggalkan begitu saja, tapi kalau kita mengerti paling kita bisa memberi tahu sedikit. Berbeda dengan mereka, saat saya kebingungan harus mencari bus dimana. Seorang wanita lagi-lagi membuat saya tercengang, saat saya tanyakan bus menuju ke Fuchaku tempat konferensi berlangsung. Wanita ini kekurangan dalam bahasa inggris, namun dia tidak berputus asa dalam menjelaskannya kepada saua. Tanpa berpikir panjang wanita ini langsung mengarahkan saya untuk menuju ke shelter saya harus menunggu bus ke Fuchaku. Ya, dia memang terbatas dalam bahasa inggris, namun ia tak mau sampai-sampai membuat bingung orang yang bertanya, makanya ia langsung mengajak saya ke shelter nya. Tak lama setelah ia mengantar saya, ia langsung lari lagi menuju tempat awalnya.

            Saya masih yakin, bahwa Indonesia bisa menjadi lebih baik, lebih aman dan lebih tentram kedepannya. Karena tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Maka itu saya akan terus berusaha mengupgrade diri pribadi, demi kemajuan dan untuk berdaya nya Indonesia. Terakhir, saya ucapkan terima kasih, kepada beastudi ETOS yang telah membantu saya dalam pendanaan untuk mengikuti acara ini. saya memang tidak bisa membalas budi baik para donatur yang telah membantu saya. Namun satu hal, saya akan berusaha menjadi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa. Karena mungkin hal itu saja yang patut saya berikan untuk sementara ini. semoga kedepannya akan banyak lagi teman-teman ETOS yang bisa merasakan indahnya negeri luar. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s