Kearifan Lokal Okinawa

Malam kawan, bingung ya? Ehm kebetulan saya bikin tulisan ini jam 12.39 AM WIB. Mau menepati janji aja nih, terkadang untuk meraih mimpi, kita harus berani tegas dengan diri kita, karena kalau gak kehidupan lah yang akan keras sama kita. Ngomong-ngomong masalah keras, ada negara yang keras dengan peraturan tapi sangat mengedepankan nilai kemanusiaan dengan menghormati dan memberi fasilitas bagi mereka yang memiliki kekurangan

Sebenarnya ini sedikit berbagi cerita, tentang pengalaman pribadi merasakan perjalanan ke negeri nya para samurai. Banyak yang saya dapatkan disana, salah satunya yang mau saya bahas dibawah ini kawan. Mungkin gak saya temukan selama saya di Indonesia. Padahal di Indonesia sudah hampir 19 tahun, tapi gak saya temukan kearifan lokal seperti ini. “Apa sih sebenarnya yang mau diceritakan?”. Sabar-sabar bro, abis ini kita bahas hehe. Siap ya menjalani seluk beluk kehidupan warga Jepang.

O.K let’s start it!

Sore itu, saya berjalan dari sebuah kota di Naha City. Kotanya bisa dibilang ramai, karena cukup dekat dengan bandara dan terletak di pusat dari Pulau Okinawa tersebut. Singkat cerita saya mencoba naik bus kota untuk menuju tujuan saya Fuchaku. Tapi saya  bingung kawan, saya tidak tahu harus kemana, saya bingung harus naik bus nomor berapa dan saya sangat takut berada disana. Iya, pengalaman pertama ini membuat saya sangat khawatir. Saya sendiri dan hanya bersama Allah disana. Disetiap langkah, saya coba untuk terus melantunkan nama-nama Allah, saya tidak mau Allah jauh satu centi pun dari hamba-Nya yang sedang melancong ke negeri nun jauh ini. Tak akan saya biarkan hal itu terjadi.

Kebetulan disana ada beberpa orang wanita yang dapat saya tanyakan terkait tujuan saya. Ketika saya bertanya kepada mereka, naas mereka tidak mengerti bahasa inggris dengan baik, saya hanya bisa menangkap bahwa mereka berasal dari Tokyo. Mereka juga sedang berlibur di sini, bedanya dengan saya mereka mengerti bahasa jepang, saya tidak. Namun, mereka tidak hanya sampai disitu membantu saya, dengan segala keterbatasannya ia mencoba mengarahkan saya kepada warga sipil yang ada di terminal Asahibashi. Sekali lagi saya Tanya, tidak ada yang bisa mengerti pembicaraan saya. Dala m kondisi perut yang kosong seperti ini, lagi-lagi saya hanya mengandalkan kekuatan Allah. Ya, saya ingin mengejar waktu untuk conference saya memang sudah telat untuk conference lantaran salah melihar jadwal.

Tidak lama kemudian masyarakat Jepang berbondong-bondong membuat saya ingin menangis, menangis karena pertolongan Allah sangat dekat dengan hamba-Nya yang bertakwa. Saya sangat merasakan hal itu di Okinawa. Ketika saya mulai frustasi bertanya kepada setiap orang, akhirnya saya putuskan untuk bertanya kepada salah satu lagi dari mereka namun jaraknya bukan di tempat yang sama. Saya harus melangkah mengitari terminal Asahibashi ke sudut lainnya. Frustasi itu dating lagi ketika saya tanya kepada wanita lain, ternyata ia tidak mau meladeni saya, mungkin ia kira saya ini orang jahat, atau mungkin juga ia menyadari saya ini turis yang pasti akan menggunakan bahasa inggris. Allah menunjukan pertolongan-Nya lagi. Tiba-tiba wanita ini berubah pikiran dan mau menolong saya. Awalnya sama dengan penduduk Jepang lainnya, kesusahan karena saya menggunakan bahasa inggris. Namun, dengan segala keterbatasannya ia mencoba berbahasa dengan tubuhnya. Ia tidak mengerti lagi harus melakukan apa untuk menjelaskan kepada saya, sedikit yang saya baca dari gerak-gerik wanita ini, ia sedang dalam keadaan buru-buru. Namun, saya butuh bantuannya. Akhirnya ia mengantar saya ke halte dimana saya harus menunggu. Benar memang, tak lama setelah mengantar saya, ia kembali lagi ke tempat semula ia menunggu bus, di pojok dekat telepon umum berwarna putih yang tua itu.

Saya tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa mengucapkan Arigato, saking senangnya saya mengucapkan Danke Schon. Ingin benar-benar kuat dan tidak salah jalan menuju Fuchaku, saya berniat menanyakan lagi kepada setiap orang yang turun di halte saya duduk. Namun, belum ada orang yang turun disana. Saya coba buka tas ransel berwarna hijau yang belum lama saya beli dari hasil keringat sendiri ini. saya coba ambil botol berisi air mineral, kebiasaan saya adalah membawa air mineral dan ini akan saya pertahankan terus selama masih sempat. Seteguk air mineral Alhamdulillah dapat memberi ketenangan saya untuk berpikir. Berhentilah sebuah bus berwarna hijau muda di depan saya. Tak mau ketinggalan saya coba pastikan nomor bus kotanya. Ternyata bukan nomor yang saya tuju. Namun ada wanita yang turun dari sana, kesempatan bagus ini akan saya gunakan untuk bertanya kepada ia tentang jalan menuju Fuchaku.

 

 

Miss, can I ask something to you?” suara lirih saya terlontar, dan hal ini membuat ia sedikit memberi perhatian kepada saya, “yaa, sure”.nampaknya saya tidak salah pilih. Wanita ini bisa berbahasa inggris meskipun memang tidak sebagus native speaker. “ I want to know, which bus, that I have to choose to go to Fuchaku?” dan ia pun merespon pertanyaan saya “ Fuchaku? Emm twenty.. you have to take twenty” ……

Perbincangan antara kami berdua terjadi, saya herana belum selesai saya bertanya ia langsung meminta izin untuk pergi. Mungkin ia sedang sibuk, yang jelas informasi tentang tempat pemberhentian sudah saya dapatkan darinya. Ini lebih dari cukup. Saya kembali duduk menunggu bus kota yang datang. Tapi, bukan bus kota yang datang. Miss yang belum lama meminta izin ke saya, ia datang kembali dengan membawa map. Map tentang perjalanan bus trayek Okinawa. Saya speechless dan tidak bisa berkata apa-apa. Tangan saya sedikit bergemetar, ingin rasanya mengucapkan terima kasih kepad Miss yang bahkan saya tidak tahu namanya. Umurnya sekitar 28-30 tahun. Lagi-lagi ke-Speechless-an saya terlontar dengan kalimat Danke Schon. Danke Schon adalah bahasa Jerman yang mungkin mereka tidak mengetahui artinya. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya waktu itu. Mereka membuat saya gerimis dalam hati, saya senang sekaligus sedih. Senang karena masih banyak manusia di dunia ini yang memiliki hati nurani dan sedih karena hal ini tidak saya dapati di Indonesia.

Jepang benar-benar membuat saya terharu. Terbukti sudah opini yang diucapkan salah satu dosen saya. Kata beliau “ Warga di Jepang relative lebih ramah disbanding China dan Korea.” Saya sudah membuktikan hal itu, karena dua dari 3 negara yang disebutkan oleh dosen saya itu sudah saya kunjungi kemarin. Inilah Jepang dengan kearifan lokal yang sangat rekomendasi untuk ditiru. Mereka memang mengembangkan teknologi, namun satu yang tidak lupa mereka jaga adalah tata krama. Karena sebuah negara yang maju, bukan dilihat oleh tingkat kemakmuran warganya saja, namun dari pola hidup masyarakat dan tingkat kriminalnya.

Percaya dengan tulisan ini? kalau saya jadi kalian, saya tidak mau percaya begitu saja. saya akan buktikan dengan sendiri!

Sampai Berjumpa di Jurang kesuksesan!!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s