Belajar Karakter Kepemimpinan dengan Bermain Bola

Mau upload hasil tulisan lagi nih.

Ya, meskipun ini sudah lama. Kalian akan tahu lah dengan sendirinya saya itu menulis masih mengikuti mood he he. Mohon Sarannya yaa untuk perkembangan saya juga 

 

Kepemimpinan itu adalah hal yang langka. Langka kalau kepemimpinannya sesuai dengan harapan masyrakat, langka jika kepemimpinan itu lebih condong terhadap masyrakat luas. Susah sekali kita mendapatkan karakter pemimpin yang amanah di negeri ini, mereka terlihat sibuk dengan urusan politik masing-masing, bahkan tidak jarang ada yang sibuk dengan koceknya. Lalu sampai kapan kita terus menunggu lahirnya Soekarno lain di negeri ini?!

Berbicara masalah kepemimpinan, tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari. Seorang pemimpin yang sesungguhnya adalah mereka yang terlahir dari situasi genting, bukan lahir karena kemauan sendiri ataupun karena ada kesempatan untuk berkuasa. Pemimpin yang ideal saat ini sangat sulit ditemui. Saya tidak menjustifikasi wakil rakyat kita di Senayan semuanya tidak cinta terhadap Indonesia. Masih banyak dari mereka yang mau memberi kontribusi lebihnya untuk bunda pertiwi. Namun, mungkin mereka sedikit melupakan karakter pemimpin  seperti apa sih yang dibutuhkan saat ini. Dan berbicara masalah karakter atau jiwa pemimpin ada satu hal yang mau saya sampaikan di sini.

Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu 28/12/2013. Saya dan beberapa teman asrama bermain futsal bersama. Kebetulan waktu itu saya sedikit berinisiatif untuk memimpin permainan di tim. Tim kami waktu itu memang tidak sebagus yang satunya, jika dibandingkan secara kualitas saya cukup mengenal teman saya yang ada di tim satunya. Namun, saya tetap optimis dan percaya diri memimpin jalannya alur bola di tim kami. Singkat cerita, kami unggul bahkan permainan kami bisa dibilang sangat cantik. Saya sendiri tidak menyangka, bahkan teman saya yang katanya tidak bisa bermain bola, sangat mahir dalam menjaga pertahanan. Begitupun dengan striker, dalam waktu tak lebih dari tiga puluh menit kami sudah unggul 4-1. Sungguh menakjubkan! Namun karena factor fisik yang tak mumpuni di tim kami, kami harus menerima kekalahan 7-8, namun hal ini sangat luar biasa bagi kami.

Esoknya, di hari Minggu 29/12/2013. Kami pun berolah raga kembali, dengan kondisi yang agak berbeda, karena beberapa pemain yang cukup hebat bergabung bersama. Saat pembagian tim usai, lagi-lagi saya harus kebagian dengan tim yang tidak jauh berbeda dengan yang kemarin, dengan semangat saya kembali memimpin jalannya pertandingan di tim kami. Seiring berjalannya pertandingan, kami sempat unggul 1-0 terlebih dahulu. Namun apa daya, tak lama setelah pertandingan berjalan cukup lama, kami makin tertinggal dan tertinggal hingga 1-5. Hal ini makin membuat saya pribadi sebagai kapten dalam tim frustasi. “Apa yang terjadi kepada tim saya? Kenapa bermainnya tidak secantik kemarin? Padahal komposisi timnya tidak begitu jauh dari kemarin?” Di akhir pertandingan kami harus menerima kekalahan yang cukup telak 4-8.

Sebenarnya bukan skornya yang mau saya bahas disini, namun pengalaman saya pribadi dalam memimpin permainan di lapangan-lah yang akan saya bagikan kepada Anda semua. Usut punya usut, saya mengetahui penyebab utama kenapa tim kami kalah telak dalam pertandingan di hari Minggu. Ya, dalam pertandingan kali itu, amarah saya memuncak dan tidak bisa terkendali lantaran kecewa. Saya terbakar oleh api amarah sehingga membuat konsentrasi buyar dan tak bisa berfikir dengan jernih untuk memimpin lapangan. Di hari pertama, saya berhasil memimpin dengan hati. Biarpun harus kebobolan, saya berhasil memotivasi kawan-kawan lain untuk kembali bangkit dari keterpurukan bukan malah memarahi mereka dan membuat mental mereka makin down.

“ Jika tidak mau membawa bolanya, Anda tidak akan dapat memimpin timnya”. Begitulah kutipan buku John C Maxwell dalam “21 Ciri Pokok Seorang Pemimpin”. Saya rasa sedikit pelajaran ini bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita, terutama bagi mereka yang sedang asyik atau syukur-syukur bingung memikirkan nasib negeri ini kedepannya. Bermain futsal sejatinya memang tidak bisa menggambarkan pelik nya masalah yang menimpa negeri ini. Namun, tidak ada salahnya kita menjadi pemimpin yang bisa dipelajari dari bermain futsal. Simpel bukan?

Memimpin sesuatu memang bukan perkara mudah, semuanya butuh proses dan pembelajaran yang banyak. Kalau kata Gerald McGinnis selaku Presiden Merangkap Direktur Utama Respironics, Inc. megatakan “ Pergunakanlah waktu Anda untuk mendengarkan serta membaca kira-kira sepuluh kali lebih banyak dari waktu yang Anda gunakan untuk terus berbicara. Ini akan memastikan Anda terus belajar serta memperbaiki diri.” Tidak ada seorang pun yang terlahir dengan jiwa kepemimpinan yang sudah bagus, masih ada kesempatan untuk terus memperbaiki diri sekaligus memperbaiki negeri ini. Anda mau mencobanya? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s