It’s all about Tukang Becak

Pastinya tahu kan, tukang becak yang mana? Saya punya beberapa pengalaman buruk nih tentang tukang becak. Padahal sebenernya sih kasihan ya liat tukang becak, udah capek bawa becaknya, dibayarnya gak seberapa, eh tapi ada aja yang bikin nyebelin, meskipun gak semuanya sih. Ceritanya itu bermula di Malioboro guys, bukan nama rokok ya dan bukan promosi juga. Ini asli Cuma mau cerita aja.

Waktu itu, kita yang masih pada unyu-unyu (SMA kelas 2) melaksanakan Study Tour ke Jogja. Salah satu tujuan nya pasti ya Malioboro. Sewaktu turun dari bus, sebenernya kita udah di kasih tahu sama bapak/ibu guru, kalau mau menuju malioboro tinggal lurus aja “kesana” sambil menunjuk ke arah belakang bus. Oke, akhirnya dengan jiwa lugu saya dan beberapa teman-pun berinisiatif untuk hunting baju murah, soalnya denger-denger disini banyak baju murah tuh.

Pas lagi jalan, ketemu lah kami dengan komplotan para abang becak yang dengan ramah dan sopan menanyakan kepada kami untuk naik becak. Lugu, dan tanpa tahu menahu tentang keadaan Jogja membuat kami mengikuti keinginan abang tukang becak tersebut. Lagian siapa yang mau nolak, wong Cuma lima ngewu ae kok (orang Cuma lima ribu aja kok). “ Bang, Malioboro ya, bilang salah satu teman saya kepada abang becak yang kami tumpangi. Abangnya agak tua, kulitnya hitam mungkin karena terlalu sering narik becak di siang hari tanpa memakai lotion anti panas. Hal itu juga yang membuat kami kasihan ke abangnya.

Dalam perjalanan, abang tukang becaknya baik banget, ngajak kami bicara terus. Sudah jelas perasaan tidak salah memilih abang becak timbul di hati kami masing-masing. Udah lima ribu, dianter sampai lokasi tujuan lagi, Alhamdulillah ya. Sekitar lima belas menit duduk diatas becak, kami bertiga turun dari becak tersebut. Agak aneh sih, seteahu saya pasar malioboro itu seperti pasar tradisional yang di emperan. Kok, kita diajak ke toko yang sudah berdiri permanen ya? Ehm, mungkin ini salah satu dari Malioboro kali ya.

Kami pun asik dalam perbelanjaan, kesana kemari mencari barang yang murah, namun keanehan ini makin menjadi. Kata orang banyak, di Malioboro itu barangnya murah-murah, lha ini kok barangnya sampai dua ratus ribu. Duit di kantong juga gak banyak-banyak, tapi orang rumah juga sayang kalau gak dibeliin oleh-oleh. Yaudah, saya putuskan untuk lebih sabar mencari. Dua teman saya yang satu becak, sudah memegang buang tangan dari Jogja, meskipun mereka agak menyesal karena harganya mahal , katanya sih sekali-sekali ini.

Perasaan takut mulai menyelimuti, saya bukanlah orang yang pandai dalam membeli. Saya hanya takut, balik ke Jakarta dengan tangan kosong itu rasanya…. *KeaAnakGaulJakarta*. Setelah semuanya sudah pada beli, kami putuskan untuk balik lagi ke Bus. Mugkin ada petunjuk tentang Malioboro yang sesungguhnya, kami merasa dibohongin sama abangnya. Semoga aja ini beneran lima ribu. Kamipun kembali lagi ke Bus, disana kami melihat beberapa teman yang sedang membayar uang ke abang becak. Kok agak aneh ya, mereka berkumpul gitu satu sama lain. Setelah kami diantar sampai dekat bus, kami pun berniat membayar abang becaknya. Awalnya saya yang mau mengeluarkan uang untuk membayar abang becaknya, karena dari orang yang naik becak tadi,  cuma saya yang belum mengeluarkan uang sama sekali karena belum membeli apapun he he.

“Nih Bang, uangnya “ sembari memberi uang lima ribuan ke abang becak yang sudah agak tua itu. Asli nya sih gak tega, mau ngasih lima ribu dan teman saya meminta untuk nambahin uangnya lagi. Eh bapaknya malah membuat keonaran. “Waduh, gak cukup mas lima ribu mah, ini kan bertiga. Teman mas, yang satu rada gemuk juga tuh. Limolas ae (lima belas aja) Mas”. Wihh, ini abang tukang becak minta disiram air comberan. “Lha, Bang. Bukannya tadi Abang yang bilang kalau bayarnya lima ribu? Kenapa sekarang jadi naik lima belas ribu?”. Jawab saya dengan suara agak kesal. Lagian, tadi janjinya lima ribu, mana gak dianter sampai Malioboro dengan alasan karena masih sore dan  masih tutup, sekarang nambah jadi lima belas ribu. Kami gak mau lah jelas! Karena abangnya gak bisa maksa kami, akhirnya ia meminta untuk membayarnya seharga sepuluh ribu saja. sebenarnya ini bukan permasalahan uang sih, *Gaya*. Ya, kenapa gak ia langsung jujur aja nawarin kami becak seharga lima belas ribu. Kan pastinya kami juga bisa prepare dan ngerasa gak dibohongin gini.

Akhirnya kamipun dengan berat hati harus memberi Abangya uang sepuluh ribu. Niat awal yang mau memberi lebih dari lima ribu dengan ikhlas, harus digantikan dengan memberi uang sepuluh ribu dengan berat hati -__-. Salahe dewek, sopo sing suruh abangnya begitu. Dengan hati yang cukup merah memadam, kami bertemu dan mencoba memberi tahu teman-teman lain. Maksudnya biar gak ada yang ketipu juga. “ Apaan! Kami juga udah ketipu tadi. Abangya malah minta lima belas ribu”. Hemm, dasar abang tukang becak, ternyata lirik lagu abang tukang becak harusnya diganti ya.

 

Abang tukang becak, sana sana sana, saya gak mau naik!

Bilang lima ngewu, gak tahunya limolas sewu saya sakit hati.

Btw, tadi itu lagu abang tukang bakso atau abang tukang becak ya? -__-

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s